Ricardo Spagni, mantan pengelola utama proyek cryptocurrency privasi Monero, mengeluarkan peringatan serius terkait meningkatnya risiko penipuan identitas dalam proses Know Your Customer (KYC) yang kini semakin canggih karena melibatkan kecerdasan buatan (AI).
Dalam pernyataan terbarunya, Spagni mengungkapkan kekhawatirannya bahwa teknologi AI—yang selama ini digunakan untuk menyederhanakan berbagai proses—justru kini berpotensi menjadi alat ampuh dalam aksi kejahatan digital, terutama untuk menciptakan identitas palsu yang sangat meyakinkan.
“AI generatif bisa membuat wajah palsu yang sangat realistis, dan sistem KYC tradisional belum tentu bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu,” ujar Spagni melalui akun media sosialnya.
Peringatan untuk Perusahaan Kripto dan Layanan Keuangan
Menurut Spagni, banyak perusahaan kripto dan keuangan saat ini terlalu bergantung pada layanan pihak ketiga untuk melakukan proses verifikasi identitas. Padahal, tidak semua layanan tersebut dibangun dengan teknologi deteksi penipuan yang mutakhir. Hal ini membuat mereka rentan terhadap serangan berbasis AI.
Ia menambahkan bahwa dengan kemajuan pesat dalam teknologi deepfake dan pembuatan gambar wajah sintetis, penjahat siber dapat dengan mudah mengelabui sistem KYC konvensional.
“Penipuan KYC berbasis AI bukan lagi ancaman fiktif. Ini nyata dan akan segera menjadi lebih masif jika tidak ditanggapi serius,” kata Spagni.
Risiko Tinggi di Tengah Regulasi yang Ketat
Peringatan ini muncul di tengah ketatnya regulasi global yang mewajibkan perusahaan aset digital untuk menerapkan proses KYC demi mencegah pencucian uang dan pendanaan terorisme. Namun ironisnya, sistem yang tidak siap menghadapi manipulasi berbasis AI justru bisa menciptakan celah baru dalam sistem keuangan digital.
Dalam lanskap kripto yang mengedepankan privasi dan anonimitas, isu ini menjadi sangat sensitif. Perusahaan yang gagal mendeteksi identitas palsu bukan hanya menghadapi risiko finansial, tetapi juga potensi sanksi hukum dan kerugian reputasi.
Solusi: Inovasi Keamanan dan Edukasi
Spagni menyerukan kepada perusahaan untuk tidak hanya mengandalkan solusi siap pakai, tetapi juga mulai mengembangkan atau berinvestasi pada sistem deteksi AI yang lebih kuat. Ia juga menekankan pentingnya edukasi bagi karyawan dalam mengenali pola-pola baru penipuan berbasis teknologi.
“Kalau kita tidak bersiap dari sekarang, gelombang penipuan ini akan sangat merugikan industri,” tegasnya.
Peringatan dari Spagni menambah daftar panjang kekhawatiran para ahli teknologi terhadap potensi penyalahgunaan AI dalam kejahatan siber, khususnya di sektor yang sensitif seperti keuangan dan identitas digital.