Kebijakan ekonomi yang diusung oleh Donald Trump kembali menjadi sorotan, dengan sejumlah pakar ekonomi memperingatkan potensi dampak negatif terhadap dominasi dolar AS di panggung internasional. Sejumlah langkah yang diterapkan, termasuk tarif perdagangan tinggi dan kebijakan unilateralis, dinilai dapat mempercepat proses de-dolarisasi yang dilakukan oleh negara-negara pesaing.
Dominasi Dolar AS Terancam?
Dolar AS selama beberapa dekade telah menjadi mata uang cadangan utama dunia, digunakan dalam perdagangan internasional dan transaksi keuangan global. Namun, sejumlah ekonom khawatir bahwa kebijakan proteksionis Trump, jika kembali diterapkan, dapat melemahkan posisi dolar dan mempercepat pergeseran ke sistem keuangan multipolar.
Profesor ekonomi dari sebuah universitas ternama menilai bahwa sikap Trump yang sering kali menantang sekutu tradisional AS, terutama dalam kebijakan perdagangan, dapat mengurangi kepercayaan global terhadap dolar. “Jika mitra dagang utama AS mulai mencari alternatif lain untuk menghindari ketidakstabilan kebijakan, maka peran dolar sebagai mata uang utama dunia bisa semakin tergerus,” ujar profesor tersebut.
Upaya De-dolarisasi Semakin Menguat
Sejumlah negara, terutama China dan Rusia, telah secara aktif mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS. Proses yang dikenal sebagai de-dolarisasi ini mencakup peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral, penguatan cadangan emas, serta pengembangan sistem pembayaran alternatif yang tidak bergantung pada SWIFT.
Kelompok BRICS—yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengambil langkah konkret dalam mengurangi dominasi dolar, termasuk dengan menciptakan mekanisme perdagangan berbasis mata uang lokal. Negara-negara baru yang bergabung dengan BRICS, seperti Arab Saudi dan Iran, juga telah menunjukkan minat untuk bergabung dalam upaya ini.
Ancaman Tarif Trump terhadap Negara-negara Anti-Dolar
Dalam upaya mempertahankan dominasi dolar, Trump pernah mengancam untuk menerapkan tarif hingga 100% terhadap negara-negara yang mencoba menggantikan dolar sebagai mata uang utama dalam perdagangan internasional. Langkah ini dinilai sebagai tindakan defensif yang dapat semakin mempercepat upaya global dalam mencari alternatif selain dolar.
Nigel Green, CEO deVere Group, menyatakan bahwa kebijakan proteksionis Trump justru dapat menjadi bumerang bagi AS. “Alih-alih mempertahankan dominasi dolar, kebijakan seperti ini malah dapat mendorong negara-negara lain untuk semakin mempercepat proses de-dolarisasi,” ungkapnya.
Implikasi terhadap Sistem Keuangan Global
Jika tren de-dolarisasi terus berlanjut dan negara-negara besar mulai mengurangi ketergantungan mereka pada dolar, AS bisa kehilangan keunggulannya dalam mengontrol sistem keuangan global. Ini juga dapat berdampak pada ekonomi domestik AS, terutama dalam hal inflasi dan nilai tukar dolar terhadap mata uang lain.
Para analis sepakat bahwa kebijakan ekonomi AS dalam beberapa tahun ke depan akan sangat menentukan arah pergerakan sistem keuangan dunia. Jika AS tetap mempertahankan pendekatan proteksionis, negara-negara lain mungkin akan semakin beralih ke mata uang lain seperti yuan China atau bahkan mata uang digital yang dikembangkan oleh bank sentral masing-masing.
Dominasi dolar AS di pasar global saat ini menghadapi tantangan besar, baik dari kebijakan proteksionis AS sendiri maupun dari upaya negara-negara lain dalam mengurangi ketergantungan mereka terhadap mata uang tersebut. Jika kebijakan seperti tarif perdagangan tinggi dan pendekatan unilateralis terus diterapkan, peran dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia mungkin akan semakin melemah dalam beberapa tahun ke depan. Para pemimpin ekonomi global kini menghadapi dilema besar dalam menentukan strategi terbaik untuk menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah.